Kamis, 24 Mei 2012


ISLAM GARUT

Makam  Sunan Cipancar
Di dusun Pasir Astana,Desa Pasir Waru,kec. Limbangan,Kab. Garut,Provinsi Jawa Barat
Sunan Dalem Cipancar atau Adipati Liman Senjaya adalah bupati Limbangan pada tahun 1525.Beliau adalah salah satu penyebar agama islam di wilayah Garut.Ukuran makam Yaitu 4,80 x 3,40 M dengan tinggi 1,94 M.

Makam  Mbah  Pangadegan
Di Cangkuang,Kecamatan Leles,Kabupaten Garut,Provinsi Jawa Barat.
Makam Mbah Pangadegan letaknya di sisi timur kampung Pulo,sekitar 1 KM. Makam tersebut berada di atas bukit berukuran 3,30 x 1,47 m di dampingi makam istrinya di sebelah barat.Beliau adalah salah satu penyebar agama islam di daerah Cangkuang.

Makam Wirabaya
Di Cangkuang,Kecamatan Leles,Kabupaten Garut,Provinsi Jawa Barat.
Ukuran makam Wirabaya 2,05 x 0,90 M dengan di dampingi oleh makam istrinya di sebelah barat.Wirabaya adalah satu tokoh penyebar agama islam di wilayah Cangkuang.

Makam Arif Muhammad
Di Cangkuang,Kecamatan Leles,Kabupaten Garut,Provinsi Jawa Barat.
Arif Muhammad merupakan prajurit mataram islam yang kalah dalam perang Belanda di Batavia abad 17.Beliau adalah salah seorang penyebar agama islam khususnya daerah cangkuang dan sekitarnya.Denah persegi panjang berukuran 260 x 126 x 80 cm.





PENINGGALAN

Candi Blandongan
Segaran,Batujaya,Karawang,Jawa Barat
Candi Blandongan merupakan candi bata yang sementara paling lengkap bangunannya ketika ditemukan daripada candi lainnya yang ada di Jawa Barat. Tekhnologi dan arsitektur candi ini lebih rumit dan raya perbingkaian berupa pelipit rata (patta),pelipit setengah lingkaran (kumuda),dan gerigi.

Sumuran Candi
Desa Telagajaya,Pakisjaya,Karawang,Jawa Barat.
Salah satu situs yang ada di kompleks batujaya

Situs Patapan
Kampung Patapan pasir,Desa Nagara,Cikande,Serang
Bangunan terbuka berdenah bujur sangkar diatas sebuah bukit,terdapat batu Pelinggih dan lapik atau altar.Berdasarkan namanya pada masa kemudian digunakan sebagai tempat bertapa.Pemilihan bukit sebagai sarana spiritual berakar pada konsep gunung sebagai tempat arwah nenek moyang pada masa prasejarah dan berpadu pada konsep meru dalam agama Hindu-Budha.

Prasasti Batu Tulis
Jln. Batu tulis,Desa Batu tulis,Kec.Bogor selatan,Kab.Bogor,Provinsi Jawa Barat
Prasasti ini dibuat pada masa pemerintahan surawisesa (1521-1533 m) salah satu putra dari raja padjajaran,menggunakan bahasa sunda dan huruf sunda kuno dengan angka tahun 1455s / 1533m.

CAGAR BUDAYA CANDI CANGKUANG



Letaknya disebuah kampung,dengan nama kampung PULO Desa Cangkuang,
Kecamatan Leles Kabupaten Dati II Garut Jawa Barat.

            Yang perlu diketahui dilokasi Cagar Budaya Candi Cangkuang adalah :
                                                       I.            SEJARAH PENEMUAN CANDI CANGKUANG.
                                                     II.            MAKAM KUNO (MAKAM ARIF MUHAMMAD)
                                                  III.            KOMPLEK RUMAH ADAT KAMPUNG PULO
                                                  IV.            LARANGAN ADAT

I.SEJARAH PENEMUAN CANDI CANGKUANG
Candi Cangkuang,demikianlah nama candi ini yang diambil dari nama sebuah desa dimana candi ini ditemukan,yaitu Desa Cangkuang.Nama Cangkuang pun menurut cerita masyarakat setempat diambil dari nama sejenis tanaman yang banyak tumbuh disekitar daerah ini yaitu pohon cangkuang.
Candi Cangkuang ditemukan kembali pada tanggal 9 Desember 1966.oleh salah seorang ahli purbakala yang bernama DRS. UKA TJANDRASASMITA.Cara menemukannya berdasarkan pada sebuah buku yang ditulis oleh seorang Belanda bernama VORDERMAN pada tahun 1893.yaitu Notulen Bataviach Genoot Schap.
Dalam buku tersebut menyatakan,bahwa di Desa Cangkuang terdapat makam kuno (Makam Arif Muhammad) dan sebuah patung/arca.
Jadi didalam bukunya Vorderman tidak menyebutkan bahwa di Cangkuang adanya bangunan candi.Pada tahun 1967/1968 dilakukan penelitian dan penggalian di di sekitar daerah ini oleh para ahli sejarah.karena menurut mereka kemungkinan besar terdapat bangunan candi.
Juga pada waktu itu ada hal yang mencurigakan,yaitu banyaknya balokan batu yang sudah berserakan oleh penduduk setempat dipergunakan nisan-nisan kuburan.
Dari hasil penelitian dan penggalian waktu itu,ditemukanlah fondasi candi yang berukuran 4,5 x 4,5 meter termasuk batu-batu lainya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa keadaan bangunan candi waktu itu ditemukan sudah berserakan.Dari IKIP Bandung pada waktu penelitian di daerah ini juga ikut serta yang disponsori oleh sebuah CV di kecamatan Leles yaitu CV Haruman dibawah pimpinan Idji Hatadji.
Setelah fondasi candi dan batu-batu lainnya ditemukan, maka dilakukanlah pemugaran terhadap bangunan candi ini yang dilaksanakan oleh Proyek Pembinaan Kepurbakalaan Dan Peninggalan Nasional Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.Yaitu pada tahun 1974/1976.Cara Pemugarannya yaitu berpedoman pada relief-relief dari tiap balokan batu yang akibat dari ketepatan waktu penyusunan tersebut,maka pada dinding bangunan candi itu terdapat relief berbentuk segi empat.Disini perlu diketahui bahwa batu asli yang bisa dipergunakan kembali pada waktu pemugaran hanya kurang lebih 40%,Pada umumnya batu-batunya sudah mengalami pelapukan.
Mengenai jenis batunya ; yaitu jenis batuan andesit.
Sejarah pendiri Candi Cangkuang sampai sekarang belum diketahui.karena pertama tidak terdapatnya cerita masyarakat setempat dan kedua yang sangat pokok sekali tidak ditemukannya prasasti.
Hanya para ahli sejarah baru memperkirakan,bahwa candi cangkuang ini di dirikan pada abad ke VIII; dengan berpedoman kepada alasan-alasan sebagai berikut:
1.     Dilihat dari kelapukan batu.
2.     Dilihat dari segi reliefnya.
Kemudian kalau dilihat dari segi patung yang ada,yaitu patung syiwa maka candi cangkuang ini merupakan peninggalan agama Hindu abad VIII.Candi Cangkuang ini selesai dipugar dan diresmikan pada 8 Desember 1976 oleh Menteri P dan K. RI. Yaitu Prof. Dr. Syarif Thayeb.
II. MAKAM KUNO (MAKAM ARIF MUHAMMAD)
Letaknya sebelah selatan bangunan Candi Cangkuang.
Menurut cerita masyarakat setempat juga yang dikuatkan oleh sebuah buku kuno yang terdapat di Kecamatan Karangpawitan Garut.
Didalam buku tersebut disebutkan, bahwa Arif Muhammad adalah salah seorang tokoh penyebar Agama Islam di Desa Cangkuang dan sekitarnya,yang pada mulanya Arif Muhammad itu merupakan salah seorang utusan dari Mataram yang mendapat tugas dari Sultan Agung untuk menyerang tentara VOC di Batavia di bawah pimpinan Jp. Coen pada permulaan abad ke XVII.Serangannya gagal.yang akhirnya singgah di Cangkuang sambil menyebarkan agama islam;sebagai buktinya yaitu ditemukannya kitab-kitab dari masyarakat sekitar daerah ini yaitu Kampung Pulo.
Adapun jenis kitab-kitabnya : Al-Qur’an,Fiqih,Tauhid dan Khutbah Jum’at.
III. KOMPLEK RUMAH ADAT
Letaknya disebelah barat bangunan Candi Cangkuang,dengan nama Kampung Pulo.
Jumlah rumah dan kepala keluarga di daerah ini,tidak boleh lebih atau kurang dari 6 (enam) kecuali ditambah satu Mesjid.Hal ini melambangkan bahwa Arif Muhammad mempunyai keturunan enam wanita yang dilambangkan pada rumah dan satu laki-laki dilambangkan pada Mesjid.
Bilamana dari salah satu kepala keluarga didaerah ini meninggal,maka yang berhak menggantinya yaitu anak perempuan.
Juga disini perlu diketahui,apabila dari salah satu keluarga mempunyai anak yang sudah dewasa lalu dikawinkan,maka dua minggu setelah perkawinan itu anak tersebut harus pindah dari Kampung Pulo.
Dan bila orang tuanya meninggal,anak tersebut berhak masuk kembali untuk menetap di kampung ini dengan catatan yang berhak itu anak perempuan.
Mata pencaharian masyarakat di Kampung Pulo,adalah dari pertanian,baik disawah maupun diladang.Tetapi setelah didaerah ini dijadikan objek wisata,mata pencaharian disini bertambah dengan jalan berjualan makanan,cinderamata dan sarana angkutan di situ Cangkuang dengan menggunakan rakit/getek.
IV. LARANGAN ADAT
Didaerah Pulo terdapat beberapa larangan adat,baik yang harus dipatuhi oleh pengunjung maupun penduduk setempat :
1.     Hari Rabu merupakan larangan bagi siapa saja yang melakukan ziarah kemakam-makam keramat Cangkuang,sebagai contoh kemakam Arif Muhammad.Adapun alasannya sewaktu Arif Muhammad mengembangkan agama Islam di Desa Cangkuang, Pada hari Rabu itu melarang masyarakat sekitarnya melakukan kegiatan kerja lain seperti ke sawah,ke Ladang dan sebagainya.kecuali mereka dikumpulkan di suatu tempat hanyalah untuk mempelajari ajaran agama Islam. Dan sekarang oleh Juru Kunci Makam (Kunce) dilarikan kepada kegiatan ziarah,dimana dalam satu minggu ada liburnya untuk menerima tamu yang akan berziarah yaitu pada hari Rabu.
2.     Jumlah rumah dan kepala keluarga tidak boleh lebih atau kurang dari enam kecuali ditambah satu Mesjid (Alasannya telah dikemukakan di atas).
3.     Di Kampung Pulo tidak boleh memelihara binatang ternak besar yang berkaki empat (seperti Kambing,Kerbau,Sapi dll).
Alasannya : - Menjaga kelestarian tanaman disekitarnya.
                                    -Menghindarkan kotoran-kotoran.
4. Bentuk atap rumah selamanya harus memanjang.
5. Tidak boleh memukul goong besar.
Alasan No.4) dan No.5). satu kejadian,dimana pada waktu Arif Muhammad akan mengkhitan anak yang laki-laki,sebelumnya diadakan pesta dahulu dengan anak yang akan dikhitan itu diarak pakai tandu/jampana/rumah-rumahan beratap jure juga diikuti dengan hiburan menggunakan goong besar.
Ketika acara tersebut sedang berjalan,terjadilah musibah yang menimpa anak tadi yaitu dengan datangnya angin besar sampai anak itu meninggal dengan kejadian tersebut.
Dengan adanya kejadian tadi,maka leluhur disini berpesan kepada keturunan berikutnya,bahwa sejak kejadian ini di Kampung Pulo tidak boleh membuat rumah beratap jure dan tidak boleh mengadakan hiburan dengan menggunakan goong besar.